');
Beranda » Paket Wisata Aceh » Travel Aceh & Objek Wisata Bersejarah Di Kota Banda Aceh

Paket Wisata Aceh | Paket Tour Sabang | Paket Wisata Sabang | Travel Aceh | Tour Sabang | Tour Aceh Sabang

Travel Aceh & Objek Wisata Bersejarah Di Kota Banda Aceh

Jalan – jalan ke luar kota sekalian menambah wawasan tentang sejarah masa lampau pastinya adalah hal yang paling menyenangkan dengan berkunjung ke tempat-tempat wisata – wisata menarik dan bersejarah.

Indonesia sendiri memiliki banyak peninggalan tempat wisata bersejarah menarik yang dijaga kelestariannya oleh pemerintah agar dapat menarik wisatawan berkunjung ke tempat-tempat wisata bersejarah tersebut.

Seperti yang kita ketahui jika di tiap – tiap daerah pasti memiliki bangunan ataupun tempat – tempat sejarahnya masing-masing. Baik itu peninggalan dari raja-raja zaman dulu, peninggalan masa penjajahan , dan masih banyak lagi.

Berikut ini adalah tempat wisata bersejarah di kota Banda Aceh yang di ulas Paket Wisata Aceh.

Aceh merupakan salah satu Provinsi yang berada dibagian barat dan paling ujung di Indonesia, di provinsi Aceh juga banyak sekali menyimpan tempat-tempat bersejarah nusantara yang bisa kamu kunjungi untuk menambah ilmu dan wawasanmu tentang sejarah di Indonesia.

Berikut ini 5 tempat wisata sejarah di Aceh yang bisa kamu kunjungi jika kamu berencana ingin liburan ke Aceh, sebagai berikut :

1.Masjid Raya Baiturrahman

Pastinya kita sudah tidak asing lagi mendengar kota Banda Aceh disebut sebagai serami mekkah, hal ini lantara karena adanya masjid raya baiturrahman sebagai simbol kemegahan kota Banda Aceh

Selain itu, mesjid yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh ini juga sering sekali dijadikan sebagai titik pusat dari sebagai pusat kegiatan di Aceh.

Masjid raya baiturrahman ini juga merupakan salah satu masjid yang terindah se Asia tenggara, oleh karena itu banyak wisatawan yang sengaja berkunjung ke Aceh untuk mampir melihat keindahan masjid ini ataupun ingin sekalian beribadah bagi ummat muslim.

Selain itu masjid ini juga sering dijadikan sebagi tempat yang istimewa misalnya saja untuk melangsungkan akad.

2. Kerkhoff Peucut Makam Tentara Belanda

Sebelum merdeka bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda dan Jepang dalam waktu yang sangat lama sehingga sekarang ini banyak sekali bukti-bukti peninggalan dari masa penjajahan itu.

Salah satunya yaitu seperti yang berada di Aceh Kerkhoff Peucut berupa pemakamam dari tentara-tentara Belanda yang tewas.

Makam Belanda yang berada di Aceh ini menjadi salah satu kisah dan bukti bahwa gesitnya perjuangan para pejuang terdahulu untuk melawan penjajah di nusantara.

Makan ini kini sudah diabadikan oleh pemerintah setempat dan sudah menjadi situs cagar budaya.

Jika kamu ingin berkunjung ke Kerkhoff peucut letaknya terdapat di Desa Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh.

Sejarah mengatakan bahwa lebih dari 2.200 orang yang dimakamkan di tempat ini hal ini terbukti dari luasnya pemakamamm yaitu sekitar 3, 5 hektar.

3. Monumen Pesawat Dakota RI-001 Seulawah Cikal bakal peswat Garuda Indonesia

Tahukah kamu kalo di Aceh itu ada monumen pesawat RI pertama lho! Dialah Dakota RI-001 Seulawah pesawat angkut yang merupakan pesawat pertama milik Republik Indonesia.

Pesawat jenis Dakota dengan nomor sayap RI-001 yang diberi nama Seulawah ini dibeli dari uang sumbangan rakyat Aceh. Pesawat Dakota RI-001 Seulawah ini adalah cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama, Indonesian Airways. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia.

Pesawat Dakota DC-3 Seulawah ini memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28.96 meter, ditenagai dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kg serta mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam.

Bagi wisatawan yang berlibur ke kota banda Aceh mudah sekali untuk menemukan tugu monumen replika pesawat Dakota RI-001 ini tepatnya di lapangan belang padang yang tidak jauh dari lokasi mesjid raya Baiturrahman Banda Aceh

4. Kapal PLTD Apung

PLTD Apung adalah kapal generator listrik milik PLN di Banda Aceh, Indonesia, yang saat ini dijadikan tempat wisata, yang dikenal dengan nama “Kapal Apung”. Kapal ini memiliki luas sekitar 1.900 Kilo Meter Persegi, dengan panjang mencapai 63 Meter.

Kapal Apung ini memang sudah berpindah fungsi dari Pembangkit Listrik menjadi Objek Wisata Aceh. Mesin pembangkit listrik yang kekuatan dayanya mencapai 10,5 Megawatt, dahulunya berada di dalam kapal, tetapi sekarang sudah dipindahkan pada Tahun 2010. Saat ini, Kapal Apung tersebut berada di bawah pengelolaan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Kapal berbobot 2.600 ton ini sebelumnya berada di laut tepanya dipelabuhan penyeberangan Ulee Lheuh, tempat berdirinya sekarang (Punge Blang Cut, Jaya Baru, Kota Banda Aceh). Pada Minggu 26 Desember 2004 sekitar pukul 8:45 WIB kapal ini terseret 2,4 km ke daratan akibat gempa bumi dan gelombang tsunami setinggi 9 meter.

Kapal ini diberikan kepada pemerintah Aceh saat konflik antara pemerintah dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) berlangsung. Pada tahun 2012-2013, kapal direnovasi. Para pengunjung bisa naik ke atas kapal dan saat ini area sekitarnya sudah dilengkapi 2 menara, sebuah monumen, jalan setapak, dan air mancur.

5. Kapal Sangkut di Atas Rumah

Tsunami 2004 lalu banyak meninggalkan jejak dan sejarah bahkan dijadikan sebagai objek wisata, salah satuinya sebuah kapal nelayan yang terhempas dari laut dan nyangkut di suatu rumah. Dan sekarang kapal itu jadi monumen unik.

Kapal itu adalah kapal milik nelayan yang kala itu hanyut hingga tersangkut di atas atap rumah warga di Gampong (Desa) Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.

Kini kapal yang menjadi salah satu korban keganasan gelombang tsunami itu dijadikan monumen dan salah satu lokasi wisata tsunami oleh Pemerintah Kota Banda Aceh.

6. Museum Aceh & Lonceng Cakra Donya

Jika kamu berwisata ke kota Banda Aceh jangan lupa berkunjung ke Museum Aceh- Musium ini didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915. Pada waktu itu bangunannya berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Aceh). Bangunan tersebut berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus – 15 November 1914.

Lonceng Cakra Donya

Lonceng Cakra Donya merupakan benda bersejarah yang kini merupakan salah satu koleksi Museum Aceh. Menurut sejarahnya lonceng ini diberikan oleh kerajaan China melalui Laksamana Cheng Ho yang merupakan pelayar tangguh, sebagai ikatan persahabatan antara kerajaan China dengan Kerajaan Aceh.

Cakra Donya adalah lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina 1409 M, dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Cakra berarti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, cakrawala atau matahari. Sedangkan Donya berarti dunia. Pada bagian luar Cakra Donya terdapat hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo(Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5). Sedangkan aksara Arab tidak dapat dibaca lagi.

Pada dasarnya Cakra Donya adalah nama sebuah kapal perang Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yaitu Kapal Cakra Donya di mana lonceng ini digantungkan, dalam penyerbuannya terhadap Portugis di Malaka. Pada masa lalu Lonceng dari Kapal Cakra Donya tersebut, digantung dengan rantai jangkar pada pohon kuda-kuda dekat Mesjid Baiturrahnim dalam kompleks kraton untuk dibunyikan apabila penghuni kraton harus berkumpul guna mendengarkan pengumuman Sultan. Akan tetapi, sejak tahun 1915 M Cakra Donya dipindahkan ke Museum Aceh dan ditempatkan dalam kubah tersebut. Rantai Cakra Donya panjangnya 9,63 cm adalah rantai besi yang dahulu pernah dipakai untuk menggantung Lonceng Cakra Donya pada pohon kuda-kuda di depan Mesjid Baiturrahim dalam kompleks Istana Kesultanan Aceh Darussalam sampai tahun 1915. ( Acehpedia.org )

7. Rumah Cut Nyakdhien

Aceh memiliki kisah perjalanan sejarah yang cukup panjang. Beberapa pahlawan nasional yang berjuang melawan penjajahan Belanda berasal dari Aceh, salah satunya Cut Nyak Dhien.

Nah, untuk mengetahui lebih dekat tentang Srikandi Indonesia dari Tanah Rencong, mengunjungi tempat tinggal Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar adalah caranya.

Museum Rumah Cut Nyak Dhien sebenarnya merupakan replikasi yang dibuat mirip aslinya. Pasalnya, rumah Cut Nyak Dhien dibakar hingga habis oleh penjajah Belanda pada 1896 setelah diketahui bahwa Teuku Umar hanya berpura-pura membelot.

Museum Rumah Cut Nyak Dhien dibangun kembali pada 1981 dan rampung satu tahun kemudian. Kemudian, museum ini diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hasan, pada 1987.

Bagi wisatawan yang sedang liburan ke kota Banda Aceh dapat mengunjungi Musium rumah Cut Nyakdhien ini yang berlokasi di desa Lampisang arah menuju pantai Lampuuk.

8. Musem Tsunami

Tepatnya pada tanggal 6 Desember tahun 2004, Aceh dilanda musibah berupa Tsunami yang banyak sekali memakan korban jiwa dan juga menghancurkan bangunan-bangungan yang berada disana.

Oleh karena itu museum ini sengaja dibangun untuk tetap mengenang peristiwa tersebut yang disahkan oleh Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) tepatny pada tanggal 23 Februai 2008.

Museum Tsunami ini sendiri letaknya berada di Jalan Iskandar Muda, Kota Banda Aceh yang menjadi sebuah tempat wisata sejarah terbaik kebanggan rakyat Aceh.

9. Komplek Perumahan Kampung Jackie Chan

Bagi anda yang ingin mengunjungi kampung Jakichan gak usah jauh-jauh ke negeri Cina lho! ternyata di Aceh terdapat kampung persahabatan Indonesia-Tiongkok yang dibangun setelah terjadinya peristiwa Tsunami Aceh 2004. Kampung ini lebih terkenal dengan Kampung Jacky Chan terletak di di perbukitan Desa Neuheun, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, sekitar 17 km dari Banda Aceh. Mengapa lebih dikenal Kampung Jacky Chan? Padahal, yang membangun pemerintah Tiongkok?

Konon yang mensponsori dan menggalang dananya Jacky Chan. Tapi, dalam prasasti disebutkan bahwa Kampung Jacky Chan atau Kampung Persahabatan Indonesia-Tiongkok itu didanai China Charity Federation and Red Cross Society of China. Dan, pelaksanaan pembangunan dilakukan langsung oleh kontraktor dari Tiongkok, yakni Synohydro Coorporation China, yang diresmikan 19 Juli 2007.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.